13 Desember 2012

Mengukur Kefasikan

Siapa sih orang fasik itu? Pertanyaan menarik itu terlontar dalam sebuah pertemuan di kantor. Apakah orang fasik sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan? Apakah orang fasik identik dengan orang jahat? Apakah ada orang beragama yang bisa disebut fasik?

Pada dasarnya orang fasik adalah orang yang congkak, merasa ia tahu apa yang baik. Hukum-hukum Tuhan tidak relevan baginya. Ia melakukan segala sesuatu sesuai dorongan hatinya, tanpa berpikir tentang apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang memuliakan Tuhan, bagaimana ia harus bergantung kepada Tuhan.


Ia bukan orang yang ateis, tetapi ia hidup seolah-olah Tuhan tidak ada, tidak melihat, dan tidak akan menuntut pertanggungjawaban atas hidupnya. Dalam bagian-bagian tertentu di Kitab Suci kita bisa melihat bahwa para pemimpin rohani pun bisa terjebak dalam dosa kefasikan.

Seberapa sering kita berpikir tentang Tuhan dan kehendak-Nya dalam menjalani hidup? Kita bisa beribadah beberapa jam lalu melanjutkan hidup seolah-olah Dia tidak melihat. Kita bisa melakukan banyak hal yang baik tanpa memikirkan Tuhan sama sekali.

Kita jarang berpikir tentang tanggung jawab kita kepada Pencipta kita dalam bekerja. Kita merasa cukup baik karena tidak melakukan dosa-dosa besar. Kita tidak tertarik membangun relasi yang intim dengan Tuhan.

Dalam derajat tertentu, kita pun bisa berlaku fasik, sehingga pola pikir dan perilaku kita tidak banyak berbeda dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Kefasikan memberi ruang bagi dosa-dosa lain untuk bertumbuh. Waspadalah! —ELS

Hindarkan diri dari kefasikan dengan menyadari bahwa Tuhan hadir dan terlibat dalam hidup kita setiap hari.

* * *

Sumber: e-RH, 13/12/2012 (diedit seperlunya)

==========


Artikel Terbaru Blog Ini