31 Maret 2013

Kesempatan Kedua adalah Anugerah

Ted Williams adalah seorang gelandangan yang tinggal di kemah pinggir jalan Columbus, Ohio.

Pada tahun 80-an, ia adalah seorang penyiar radio, sebelum hidupnya dihancurkan oleh narkoba dan minuman keras sehingga ia kehilangan kariernya di radio.

Kemudian ia hidup sebagai perampok, penipu, pemalsu, dan pengemis yang keluar masuk penjara.

Ted Williams di depan kemahnya

Suatu hari, sebuah studio rekaman menayangkan suara emasnya melalui YouTube. Dan, itu mengubah hidupnya menjadi sangat terkenal. Dalam siaran televisi NBC, Williams menyatakan "siap menjalani kesempatan kedua yang diberikan kepadanya".

Tuhan selalu menawarkan kesempatan baru kepada setiap orang berdosa yang mau bertobat serta dengan sungguh-sungguh datang kepada-Nya dan mengakui segala dosanya.

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)

Struktur bahasa ayat ini mengungkap kebenaran bahwa setiap kali, kapan pun kita berdosa, lalu dengan sungguh mau bertobat, Dia pasti mengampuni dan menyucikan.

Lho, kok enak? Kalau begitu berbuat dosa saja terus, toh selalu tersedia pengampunan?

Siapa bilang dosa itu enak dan nikmat? Awalnya iya. Namun, selanjutnya dosa membawa penderitaan, sengsara, dan ketidaktenangan hidup.

Tidak percaya? Ted Williams telah membuktikan pahitnya hidup dalam dosa. Itu sebabnya kini ia sangat menghargai anugerah kesempatan kedua yang ia terima.

Mari memakai kesempatan hidup yang Tuhan anugerahkan. Yakni dengan tidak bermain-main dalam dosa, tetapi dengan menuruti perintah-perintah-Nya. —SST

Hidup ini kesempatan dan anugerah, hidupilah dengan bermakna.

* * *

Sumber: e-RH, 2/7/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Kesempatan Itu Anugerah

==========

30 Maret 2013

Kasih dan Hormat

Tidak menguburkan orang meninggal merupakan peristiwa tragis bagi orang Yahudi, sekalipun orang yang meninggal itu adalah penjahat.

Dalam tradisi mereka, proses penguburan juga merupakan ungkapan kasih dari mereka yang mengasihi orang mati tersebut.

Sayangnya, pada zaman Yesus, biasanya penjahat yang disalib tidak layak dikuburkan. Orang pun tak akan berkabung bagi mereka.

Ketika Yesus disalibkan seperti penjahat, Yusuf dari Arimatea tahu bahwa Yesus disalibkan bukan karena kesalahan-Nya. Ia lalu meminta izin kepada Pilatus untuk menguburkan Yesus.

Yusuf dari Arimatea adalah anggota Majelis Besar yang tak setuju dengan tindakan Majelis, dan secara diam-diam telah menjadi murid Yesus.

Bersama Nikodemus (seorang Farisi, yang pernah menemui Yesus pada malam hari), ia menurunkan mayat Yesus dan menguburkan-Nya di tanah miliknya, karena ia termasuk orang kaya.

Yesus dikuburkan

Maka, genaplah nubuat Nabi Yesaya: "Kematian-Nya seperti seorang penjahat, namun Ia dikubur di dalam pekuburan orang kaya" (Yesaya 53:9, FAYH).

Begitulah. Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus mengungkapkan kasih dan penghormatan mereka kepada Yesus.

Yusuf mengurbankan tanah kuburan baru miliknya. Sedangkan Nikodemus membawa sekitar 37 kilogram rempah untuk mengafani Yesus. Konon, hanya mayat seorang raja yang dirempahi sebanyak itu.

Dari sini kita dapat menduga seberapa berartinya Yesus bagi Yusuf dan Nikodemus.

Bila kita mengakui Yesus sebagai Pribadi paling berarti bagi kita, bagaimana kita hendak mengungkapkan kasih dan penghormatan kepada-Nya?

Kiranya aku dapat mengasihi dan menghormati Tuhanku dengan persembahan diri dan ketaatanku.

* * *

Penulis: Agustina Wijayani | e-RH, 30/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

29 Maret 2013

Ragam Ekspresi Iman

Berkunjung ke toko aksesori dan pernik-pernik perhiasan ternyata mengasyikkan juga. Amati saja keanekaragamannya. Dari satu bentuk dasar, misalnya lingkaran, tersedia begitu banyak varian.

Menurut warna: polos satu warna, paduan dua tiga warna, beraneka warna. Menurut bahan: kain, plastik, kaca, logam, kayu. Menurut fungsi: anting-anting, bandul kalung, bros, gantungan kunci.

Di satu toko saja tak ayal ada ribuan ragam. Betapa kreatif!


Ibrani pasal 11 (dalam Perjanjian Baru) kerap disebut sebagai "Aula Para Tokoh Iman". Namun, tak salah juga kita menyebutnya sebagai "Aula Keanekaragaman Iman".

Tokoh-tokoh yang tercantum di dalamnya memang memiliki satu kesamaan: mereka sama-sama orang yang "percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (ayat 6).

Namun, lihat saja keanekaragaman bentuk iman mereka. Ekspresi iman Habel berbeda dari ekspresi iman Henokh; lain dari ekspresi iman Nuh; berlainan pula dengan ekspresi iman Yakub.

Abraham mengorbankan anaknya; Musa menolak harta dan kesenangan Mesir; Rahab melindungi mata-mata Israel.

Setiap orang mengungkapkan kesaksian imannya secara unik dan khas menurut panggilan hidup masing-masing. Tidak ada yang persis sama; namun masing-masing menyenangkan hati Allah.

Kita perlu memiliki iman yang serupa dengan iman orang-orang kudus di dalam Kitab Suci. Namun, kita tidak perlu meniru bulat-bulat ekspresi iman mereka.

Keberadaan kita justru dimaksudkan untuk memperkaya ragam ungkapan iman kepada Allah.

Kita dapat berdoa, "Tuhan, beri saya ide dan kreativitas untuk mengungkapkan iman saya kepada-Mu melalui cara yang unik pada hari ini." —ARS

Hanya satu iman, namun tiada terkira ragam ekspresinya.

* * *

Sumber: e-RH, 1/7/2011 (diedit seperlunya)

==========

26 Maret 2013

Doa Buntu

Tahukah Anda dead letter office (kantor surat buntu)? Sejak 1825 Kantor Pos Amerika Serikat menyediakan kantor surat buntu untuk menampung surat-surat yang tidak dapat dikirimkan.

Surat buntu biasanya terjadi karena alamat tujuan dan alamat pengirim tidak jelas, misalnya surat kepada Sinterklas. Pada 2006 saja jumlah surat buntu mencapai 90 juta.

Untuk melindungi privasi pelanggan, surat tanpa identitas jelas itu dihancurkan, kecuali lampiran berharganya yang diambil untuk dilelang.

Kalau ada surat buntu, apakah ada doa buntu? Apabila yang dimaksudkan adalah doa-doa yang tidak terjawab, firman Tuhan mengatakan secara tegas: ada. Berikut ini adalah beberapa penyebabnya.

Bisa jadi kita sudah berdoa dengan tekun dan bersungguh-sungguh, namun kita salah arah. Mungkin salah permintaan, mungkin juga salah motivasi. Doa kita egois, hanya berfokus pada kepentingan diri. Kita meminta sesuatu untuk memuaskan kesenangan pribadi.

Atau, tanpa meminta petunjuk Tuhan, kita sudah menyusun rencana tertentu, dan dengan berdoa kita berharap Tuhan akan membubuhkan cap persetujuan-Nya tanpa campur tangan lebih jauh.

Seperti surat buntu yang dihancurkan, doa buntu berujung pada kesia-siaan.


Doa bukanlah sarana untuk "memelintir" tangan Tuhan agar mengikuti apa saja keinginan kita. Sebaliknya, doa adalah kesempatan untuk menyelaraskan langkah kita agar seiring dengan langkah Tuhan.

Kita berdoa dengan kerelaan untuk merendahkan diri dan berserah. Kita berkata, "Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi." Bagaimana Tuhan dapat menolak doa yang seperti itu? —ARS

Doa bukan untuk mengendalikan kehendak Tuhan, melainkan untuk mengendalikan kehendak kita.

* * *

Sumber: e-RH, 29/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

22 Maret 2013

Latihan Ganda

Untuk menurunkan berat badan dan menjaga kebugaran, orang biasanya memadukan dua latihan. Latihan pasif: menahan diri dengan mengikuti pola makan tertentu. Latihan aktif: berolahraga untuk membakar kalori dan lemak yang berlebihan.


Begitu juga dengan ibadah atau disiplin rohani. Ada yang AKTIF, yaitu 'disiplin keterlibatan', sesuatu yang kita lakukan; dan ada yang PASIF, yaitu 'disiplin berpantang', sesuatu yang kita hindari.

Ini berkaitan dengan jenis dosa yang kita hadapi. Ada 'dosa pelanggaran', yaitu secara AKTIF melanggar perintah Tuhan. Ada 'dosa pengabaian', yaitu secara PASIF melalaikan perbuatan baik yang semestinya kita lakukan.

Bagaimana disiplin rohani itu dapat bermanfaat bagi kita? Secara umum, menurut John Ortberg, ketika kita bergumul dengan suatu dosa pengabaian, kita akan tertolong melalui disiplin keterlibatan.

Sebaliknya, ketika kita bergumul dengan suatu dosa pelanggaran, kita akan tertolong melalui disiplin berpantang.

Sebagai contoh, jika kita cenderung murung, kita akan tertolong dengan berlatih merayakan kehidupan ini. Apabila kita bergumul melawan keserakahan, kita akan tertolong dengan berlatih memberi.

Sebaliknya, jika kita rentan bergosip, kita akan tertolong dengan berlatih menutup mulut. Apabila kita suka melebih-lebihkan sesuatu, kita akan tertolong dengan berlatih berbicara secara jujur.

Disiplin rohani tidak lain ialah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuannya: kehidupan rohani yang sehat sehingga kita menjadi bugar; baik dalam hidup yang sekarang maupun dalam hidup yang akan datang. —ARS

Jangan mencoba melawan kegelapan tanpa menyalakan terang.

* * *

Sumber: e-RH, 16/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

16 Maret 2013

Harta Tak Ternilai

Kenalan dekat saya, seorang pengusaha sukses, merintis usaha baru, yakni persewaan alat berat pertambangan. Ia begitu menggebu dengan usaha baru ini sebab di situ ia bagai mendulang emas. Akibatnya, yang lama jadi tak terurus.

Sayang, beberapa waktu kemudian banyak tagihan tak dibayar, bahkan seluruh alat beratnya 'ditelan' mitra bisnis. Meski menang perkara, tetapi surat keputusan hakim tak punya kekuatan menghadapi preman. Ia pun frustrasi, menyesal, marah.

alat berat pertambangan

Saya mengingatkannya akan masa kecilnya yang miskin dan tak punya apa-apa. Bagaimana ia merintis bisnis dari nol. Saya juga mengingatkan janji Tuhan yang terdapat di dalam Kitab Suci.

"Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:6)

Baru kemudian ia menyadari, ada harta lebih besar yang ia sia-siakan selama ini, yakni kekuatan dan penyertaan Tuhan.

Ia sadar bahwa menangisi apa yang sudah dirampok orang hanya akan menghabiskan seluruh energinya. Maka, ia bangkit merintis pekerjaan lamanya, mengangsur utang kepada bank, dan melupakan kepahitan hatinya.

Kini ia kembali berjaya, walau dengan perjuangan. Bertahun-tahun kemudian terungkap bahwa orang yang menipunya dulu, kini dipenjarakan sebagai koruptor besar uang negara.

Harta dunia adalah titipan Tuhan. Ketika berkat datang, kita bersukacita. Akan tetapi, ketika rugi, tertipu, bangkrut, bagaimanakah sikap kita?

Kiranya kita dapat meneladani Ayub saat menghadapi kemalangan. Ia berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21)

Janganlah hati kita melekat pada harta. Mari berpaut pada Sang Sumber Berkat, maka kita takkan berkekurangan. —SST

Apabila berkat datang, biarlah kita menjadi penyalur berkat. Apabila kemalangan datang, percayalah Tuhan selalu dekat.

* * *

Sumber: e-RH, 9/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

14 Maret 2013

Rajawali dan Matahari

Kini memang eranya alat elektronik canggih. Kita dibuat kagum dengan banyaknya macam dan kehebatan alat elektronik.

Namun, betapapun hebatnya alat-alat itu, tak ada satu pun yang berguna jika tidak memiliki daya listrik. Jika baterainya melemah, maka saatnya alat itu harus dihubungkan kembali dengan sumber listrik. Sampai ia siap dipakai lagi.

Kondisi rohani kita digambarkan seperti burung rajawali. Rajawali bukannya tak bisa menjadi lelah. Bisa. Apalagi ia suka terbang tinggi. Namun, ia punya cara mengatasinya, yakni mendekatkan diri ke arah matahari.

Bahkan di wilayah empat musim, ia punya kebiasaan unik pada musim semi, yakni hinggap di ketinggian terbuka untuk berjemur di bawah cahaya sang surya.


Sementara ia menyerap energi matahari, lapis luar bulu-bulu badannya rontok; hingga terjadilah "peremajaan" pada dirinya. Setelah itu, ia kembali terbang dengan kekuatan dan penampilan baru.

Begitulah keintiman kita dengan Tuhan. Tuhan menyediakan limpahan kasih setia dan rahmat. Seperti rajawali yang dikuatkan dan disegarkan setelah diterpa cahaya matahari, kita pun dapat "diremajakan" dengan semangat dan kekuatan baru oleh Tuhan.

Apakah Anda letih secara rohani? Anda tidak sendiri. Setiap orang mengalaminya. Kita bisa lesu rohani akibat kesibukan, hantaman kesusahan hidup, dan deraan rasa bersalah.

Jangan biarkan berlarut-larut. Apa pun yang terjadi, jangan menjauh dari Tuhan! Hanya pada-Nya kita menemukan rahmat dan pengampunan. Hanya Dia sumber kekuatan kita.

Carilah Tuhan. Temui hadirat-Nya. Akrabi firman-Nya. Hadirilah persekutuan umat Tuhan. Tuhan pasti menyegarkan jiwa dan memperbarui kekuatan Anda. —PAD

Jika kita kehilangan atau kekurangan kekuatan, mendekatlah pada sumber kekuatan, yaitu Tuhan.

* * *

Sumber: e-RH, 5/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

12 Maret 2013

Berhenti Mendikte Tuhan

Seorang pembuat boneka kayu yang terkenal membuatkan boneka kayu yang sangat bagus untuk anak perempuannya. Suatu saat, boneka itu terjatuh hingga beberapa bagiannya terlepas. Sambil menangis, si anak membawa boneka itu kepada ayahnya.

"Tinggalkan saja bonekamu. Ayah akan memperbaiki setiap bagian satu per satu."


Namun, anaknya tidak sabar. "Tidak, Ayah. Itu terlalu lama. Ayah hanya perlu menaruh lem di sini, memaku bagian ini, dan menyambung yang ini."

Si pembuat boneka meminta anaknya bersabar dan memercayakan boneka rusak itu kepadanya. Sayang, si anak keras kepala dan pergi membawa boneka rusaknya.

Terhadap Tuhan mungkin kita kerap berlaku seperti anak perempuan si pembuat boneka. Kita mendikte Tuhan, apa yang harus Tuhan lakukan untuk mengatasi masalah kita.

Kita tidak mau memercayakan masalah kita pada cara-Nya. Padahal, sebagaimana pembuat boneka lebih tahu bagaimana memperbaiki boneka buatannya, Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita butuhkan untuk keluar dari masalah. —SL

Berhentilah mendikte Tuhan. Tuhan paling tahu apa yang kita perlukan.

* * *

Sumber: e-RH, 30/5/2011 (dipersingkat)

Judul asli: Tuhan Sudah Tahu

==========


Artikel Terbaru Blog Ini