14 Desember 2009

Proses Menjadi Pemenang

Bagaimana Tuhan mempersiapkan seseorang supaya menjadi alat yang efektif bagi umat dan kerajaan-Nya? Tuhan tidak pernah mempersiapkan pemenang yang sanggup memimpin dalam kurun waktu satu bulan atau satu tahun, tetapi bertahun-tahun dan diproses dalam berbagai peristiwa.

Ikutilah cuplikan beberapa kisah yang tercatat di dalam Alkitab berikut ini:

1. Yusuf
Tiga belas tahun diproses dengan sangat keras. Ia hidup sebagai budak, pembantu, dan narapidana, baru kemudian diangkat Tuhan menjadi orang nomor dua di Mesir.

Di dalam penjara Yusuf harus melayani kepala penjara dan atas perkenan Tuhan, ia dipercaya sebagai pengawas.

Ketika Yusuf dengan kekuatannya sendiri mencoba untuk mempromosi dirinya, yaitu dengan cara merekomendasikan dirinya kepada Firaun melalui juru minuman, ia kembali harus bersabar menunggu proses yang Tuhan siapkan baginya selesai.

Dua tahun kemudian baru Yusuf mendapat kesempatan bertatap muka dengan Firaun. Itulah waktu yang terindah bagi Yusuf, saat ia lulus bersabar dan sadar bahwa Tuhanlah yang memegang kendali atas hidupnya.

Proses yang panjang membuat Yusuf bertumbuh dewasa dan siap menjadi pemenang yang memimpin dengan bijak, penuh hikmat, dan kasih. Tuhan memberi kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding yang Yusuf harapkan.

2. Daud
Belasan tahun diproses melalui berbagai peristiwa, baru diangkat menjadi Raja Israel. Ketika diangkat menjadi raja pun ia tidak langsung menjadi pemimpin atas kedua belas suku Israel. Kepemimpinan yang penuh diterimanya secara bertahap.

3. Ester
Setahun penuh dipersiapkan dalam wangi-wangian dan tidak bisa berhubungan dengan keluarga ataupun dunia di luar puri Susan, sebelum ia menghadap Raja Ahasyweros dan diangkat menjadi ratu yang mendampingi raja.

Pengaruh sebagai Ratu Persia baru nyata beberapa waktu kemudian. Itu pun diraihnya dengan keberanian untuk melepaskan haknya atas hidup.

Ester berkata, "Berpuasalah untuk aku ... kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Ester 4:16)

-----

Pemimpin besar seperti Yusuf, Daud, dan Ester harus melalui ketidakpastian sebelum diberi kepercayaan yang besar. Masing-masing mereka harus belajar membiarkan Tuhan merajut hidup mereka sampai Tuhan mendapati bahwa pribadi mereka memiliki kualitas yang sesuai dengan standar-Nya.

Para pemimpin yang rela dibentuk memahami bahwa promosi diri tidak pernah dapat menggantikan promosi Ilahi. Mereka menjadi penting dan bermakna karena mau diproses dan disertai oleh Tuhan. Mereka sukses karena mau mengerti, melakukan, dan menyelesaikan kehendak Tuhan di dalam hidup mereka.

Doa:
Aku bersyukur untuk pembentukan-pembentukan yang kujalani. Mampukan aku menjalani proses yang Kau sediakan supaya aku menjadi seorang pemenang. Amin.

Kata-kata bijak:
Pemenang adalah orang yang mau melakukan dan menyelesaikan kehendak Tuhan dalam hidupnya.

* * *

Sumber: Manna Sorgawi, 14 Desember 2009 (diedit seperlunya)

Di-online-kan oleh Paulus Herlambang.

=======

26 Juli 2009

Belajar dari Keledai untuk Keluar dari Sumur

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan pilu selama berjam-jam, sementara sang petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Ia melihat bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya). Ia berpikir bahwa tidak ada gunanya menolong si keledai. Akhirnya ia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis sejadi-jadinya. Tetapi kemudian semua orang heran karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga-tetangga sang petani terus menuangkan tanah kotor ke punggung hewan itu, si keledai terus mengguncangkan badannya dan melangkah naik.

Semua orang terpesona ketika si keledai berhasil melompat ke tepi sumur dan melarikan diri!

Kehidupan terus menuangkan tanah dan kotoran (masalah dan hal-hal negatif) kepada kita. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, keputusasaan, dsb) adalah dengan mengguncangkan semua tanah dan kotoran itu dari diri kita (membuangnya dari pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal yang kurang menyenangkan tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah yang kita hadapi merupakan satu batu pijakan untuk melangkah naik. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik!!!

Santoso Gunawan, milis eksgkinurdin@yahoogroups.com.


Artikel Terbaru Blog Ini