08 Desember 2012

Akhirnya Bahagia

Tandem Felix yang artinya “Akhirnya Bahagia”, merupakan tulisan di sebuah batu nisan dari seorang fisikawan dunia bernama Andre Marie Ampere, penemu satuan ukuran arus listrik yang disebut ampere. Tulisan tersebut sangat tepat untuknya mengingat hampir seluruh hidupnya selalu menderita batin.

Ia lahir tanggal 20 Januari 1775 di Lyon, Prancis dan meninggal dunia pada usia 61 tahun. Kesedihan itu berawal pada tahun 1793 atau tepatnya ketika ia berusia 18 tahun.

Ketika itu pertempuran di Kota Lyon sedang terjadi, di mana pendukung raja berperang melawan pendukung republik. Dan kekalahan dialami oleh pendukung raja. Pada kejadian itu ayah Ampere ditangkap dan kepalanya dipenggal dengan pisau guillotine.

Penderitaannya sepertinya hilang ketika dia menikah pada usia 24 tahun dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Hari-hari yang dilaluinya saat itu sangat menyenangkan dan indah. Tetapi, tampaknya kesedihan masih menghantui Ampere. Hal itu terbukti dengan kematian istrinya 4 tahun setelah anaknya lahir.

Kesedihan kali ini adalah penderitaan terbesar bagi hidup Ampere dan menjadikan dirinya sebagai orang yang murung dan hampir tidak mempunyai semangat hidup lagi. Untunglah pada saat ia berada dalam kondisi yang lemah itu, datang seorang ahli musik Prancis yang sangat terkenal, Lalande, yang dapat memberikan kehidupan baru baginya.

Pada hari-hari terakhir usianya, ia masih tetap memberikan sumbangsih bagi ilmu pengetahuan dalam bidang statistik, kimia, mekanika, kristalografi, dan optika.

Andre Marie Ampere

Penderitaan menurut sebagian orang merupakan pemicu untuk membangkitkan semangat hidup dan melahirkan kreativitas yang menghasilkan karya yang luar biasa. Tetapi di sisi lain, kebanyakan orang lebih mengganggap penderitaan justru mematikan harapan dan membawa pada kehancuran.

Kisah (Nabi) Ayub memiliki keterkaitan yang erat dengan penderitaan. Hal ini tidak berlebihan, karena seluruh kitab Ayub memang mencoba menjelaskan salah satu aspek dari penderitaan, khususnya penderitaan yang dialami oleh orang benar, sekalipun orang itu tidak bersalah dalam terjadinya penderitaan itu.

Pendeknya, Ayub bergumul dengan keadilan Tuhan yang terlihat sulit untuk dipahami. Memang penderitaan merupakan bagian integral dari kehidupan semua manusia, sehingga memiliki relevansi bagi setiap orang.

Namun yang menarik bahwa dari sekian banyak penderitaan yang bertubi-tubi melanda dalam kehidupan Ayub (anaknya meninggal, istrinya meninggalkan dia, harta lenyap, sahabat pun mengolok-olok; seakan tidak ada lagi pengharapan), justru pada akhirnya Ayub dapat berkata kepada Tuhan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”

Perkataan Ayub memberikan sebuah keyakinan baru bahwa Tuhan dapat mengerjakan segala rancangan-Nya yang tidak mudah dipahami oleh manusia, tetapi semuanya ada untuk kebaikan kita. Ingatlah bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala yang kita alami, bahkan kesulitan terberat sekalipun.

Penderitaan bukan menjadi sesuatu yang kita takuti, namun membuat kita semakin percaya bahwa Tuhan berkuasa dan bekerja dalam setiap hal, yang pada akhirnya Tandem Felix; bahagia.

Hendaklah setiap kita belajar dari kehidupan Ampere dan Ayub, yang walaupun sejak awal atau dalam perjalanan hidup selalu saja dipenuhi dengan tangis dan derita, namun semuanya pasti akan berakhir bahagia juga.

Percayakan hidup ini kepada Dia, Sang Pembentuk kehidupan. Karena Dialah, kita dapat mengerti arti hidup yang sesungguhnya. —Larry T.L. Tobing

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 8/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Tandem Felix

==========


Artikel Terbaru Blog Ini