16 Maret 2013

Harta Tak Ternilai

Kenalan dekat saya, seorang pengusaha sukses, merintis usaha baru, yakni persewaan alat berat pertambangan. Ia begitu menggebu dengan usaha baru ini sebab di situ ia bagai mendulang emas. Akibatnya, yang lama jadi tak terurus.

Sayang, beberapa waktu kemudian banyak tagihan tak dibayar, bahkan seluruh alat beratnya 'ditelan' mitra bisnis. Meski menang perkara, tetapi surat keputusan hakim tak punya kekuatan menghadapi preman. Ia pun frustrasi, menyesal, marah.

alat berat pertambangan

Saya mengingatkannya akan masa kecilnya yang miskin dan tak punya apa-apa. Bagaimana ia merintis bisnis dari nol. Saya juga mengingatkan janji Tuhan yang terdapat di dalam Kitab Suci.

"Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:6)

Baru kemudian ia menyadari, ada harta lebih besar yang ia sia-siakan selama ini, yakni kekuatan dan penyertaan Tuhan.

Ia sadar bahwa menangisi apa yang sudah dirampok orang hanya akan menghabiskan seluruh energinya. Maka, ia bangkit merintis pekerjaan lamanya, mengangsur utang kepada bank, dan melupakan kepahitan hatinya.

Kini ia kembali berjaya, walau dengan perjuangan. Bertahun-tahun kemudian terungkap bahwa orang yang menipunya dulu, kini dipenjarakan sebagai koruptor besar uang negara.

Harta dunia adalah titipan Tuhan. Ketika berkat datang, kita bersukacita. Akan tetapi, ketika rugi, tertipu, bangkrut, bagaimanakah sikap kita?

Kiranya kita dapat meneladani Ayub saat menghadapi kemalangan. Ia berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21)

Janganlah hati kita melekat pada harta. Mari berpaut pada Sang Sumber Berkat, maka kita takkan berkekurangan. —SST

Apabila berkat datang, biarlah kita menjadi penyalur berkat. Apabila kemalangan datang, percayalah Tuhan selalu dekat.

* * *

Sumber: e-RH, 9/6/2011 (diedit seperlunya)

==========


Artikel Terbaru Blog Ini