24 Agustus 2012

Penyebab Khawatir

Seseorang pernah menulis demikian: "Jika makanan disadari sebagai penyambung hidup, bukan untuk memenuhi dan mengejar selera makan, masihkah manusia khawatir? Jika pakaian awalnya adalah untuk menutupi ketelanjangan, bukan untuk menghias tubuh, masihkah manusia khawatir?"

Dalam kenyataannya, rasa khawatir kerap menggeser rasa syukur yang seharusnya ada ketika kebutuhan-kebutuhan dasar kita terpenuhi.

Mari kita lihat kehidupan dua makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Burung yang tidak punya akal untuk membuat dan menyimpan makanan seperti manusia, tetapi diberi makan oleh Tuhan.

Bunga bakung yang termasuk golongan bunga Anemon liar, tak punya kreativitas menenun bahan pakaian seperti manusia, tetapi Tuhan menghiasinya dengan keindahan yang lebih dari pakaian seorang raja.

Betapa Tuhan memerhatikan segala ciptaan-Nya, bahkan yang lemah dan luput dari pengamatan manusia. Jika kita masih meragukan pemeliharaan Tuhan yang demikian detail, maka tak heran jika kita disebut sebagai orang yang kurang percaya.

Kekhawatiran bisa menghantui ketika kebutuhan sudah beralih fungsi untuk memenuhi keinginan dan kepuasan diri. Kita menetapkan standar sendiri, lalu gelisah ketika Tuhan tidak memenuhinya.

Hidup tidak lagi dijalani untuk Tuhan yang menciptakan kita dan bergantung pada pemeliharaan-Nya, tetapi untuk memenuhi hasrat diri dan cara yang kita ingini. Apakah hal tersebut yang menyebabkan kekhawatiran Anda hari ini? --JAP

* * *

Sumber: e-RH, 24/8/12 (diedit seperlunya)

==========


Artikel Terbaru Blog Ini