02 Oktober 2012

Saling Melengkapi

Alkisah setelah Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus, mereka lalu membangun rumah dan mendapatkan makanan dengan susah payah. Adam membajak ladang, Hawa menenun wol. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai 14 orang anak.

Pada suatu hari, Tuhan singgah ke rumah Adam dan Hawa, bermaksud memberkati anak-anak mereka. Tujuh orang anak ada di rumah, sementara yang tujuh lainnya masih di ladang.

(Adam dan Hawa)

Segera anak-anak itu berlutut di hadapan-Nya. Tuhan menumpangkan tangan ke atas kepala mereka satu per satu dan mengucapkan berkat.

“Engkau akan menjadi raja yang berkuasa,” kata-Nya kepada anak pertama. Kepada yang kedua ia berkata, “Engkau akan menjadi ratu.” Dan kepada anak ketiga, “Engkau akan menjadi pangeran.”

Anak keempat dan yang lainnya menerima berkat masing-masing akan menjadi ilmuwan dan pedagang.

Mendengar berkat Tuhan kepada ketujuh anak mereka, bukan main gembira hati Adam dan Hawa. Segera mereka berlari ke ladang menjemput ketujuh anak mereka yang lain.

Ketujuh anak itu juga berlutut di hadapan Tuhan. Lalu sekali lagi Tuhan mengucapkan berkat.

Kepada yang pertama Dia berkata, “Engkau akan menjadi pembantu rumah tangga.” Kepada yang kedua, “Engkau akan menjadi petani.” Kepada yang lainnya Tuhan menganugerahkan berkat menjadi tukang sepatu, pandai besi, penyamak kulit, dan tukang jahit.

Bukan main terkejut dan kecewa Adam dan Hawa mendengar berkat yang dibagikan kepada anak-anak mereka di kelompok kedua ini.

Kemudian Hawa mengeluh, “Tuhan, ini benar-benar tidak adil. Engkau membagikan berkat-Mu tidak merata. Mereka semua adalah anak-anakku, tetapi Engkau mengangkat sebagian menjadi penguasa, sementara sebagian lagi menjadi budak.”

Tuhan menjawab, “Hawa, tidakkah engkau mengerti, adalah penting bagi-Ku menyediakan pekerjaan-pekerjaan di bumi ini melalui anak-anakmu? Jika semua menjadi raja dan ratu, tidak akan ada yang bertani dan menyiapkan makanan bagi mereka.”

“Jika semua menjadi pangeran, lalu siapa yang akan menyediakan pakaian? Setiap orang dianugerahi tugas yang berbeda-beda, dan dalam pandangan-Ku, semua pekerjaan penting.”

“Seperti bagian tubuh saling bergantung dan saling melengkapi, demikian juga semua pekerjaan itu saling bergantung dan saling melengkapi.”

Hawa kemudian berkata, “Ya Tuhan, ampunilah aku. Aku lancang dan berburuk sangka terhadap-Mu.”

Cerita rakyat Jerman ini menyadarkan kita agar tidak meremehkan atau memandang rendah pekerjaan tertentu. Sebab tanpa pekerjaan itu, mungkin pekerjaan kita tidak bisa dilaksanakan secara optimal.

Kita juga semakin menyadari bahwa pekerjaan berbeda-beda agar saling memerhatikan, saling melengkapi.

Di atas semua itu yang terpenting adalah kita belajar bahwa Tuhan bisa memberkati kita melalui apa pun pekerjaan kita dan menjadikan kita berkat melalui pekerjaan kita. —Liana Poedjihastuti

Setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 2/10/2012

==========


Artikel Terbaru Blog Ini